Terapi Bekam Modern, Terapi Terpadu, Terapi Islami

Makan Ala Nabi Musa?

May 9, 2012 - الأربعاء 19 جمادى الثانية 1433
 

Ini ada tulisan menarik dari suaradokter.com

Menu Nabi Musa as

Menu masa datang adalah calorie restriction (CR) without malnutrition atau  kurang kalori tanpa kurang gizi. Belum terbukti pada manusia, diet ini dapat memperpanjang usia dan mencegah kanker pada binatang menyusui.  Takarannya adalah 70% kebutuhan kalori dan 0.83 gr protein/kgbb/hari. [1]

Kalau kita kembalikan kepadaNya, maka walaupun berbagai makanan  bermanfaat tertulis dalam fi rmanNya, hanya satu yang memberikan petunjuk lengkap tentang komposisi menu.  Saat bangsa Yahudi dibawah pimpinan Nabi Musa as, kelaparan ketika mengembara di padang pasir, Allah swt menyajikan makanan yang membuat mereka menjadi kuat dan berhasil. FirmanNya: “… dan kami turunkan kepadamu manna (buah-buahan yang manis)  dan salwa (sejenis burung). Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. (QS Al Baqarah 002: 057).

Bagaimanakah dengan nasi?

Itupun dijelaskanNya dengan gamblang. FirmanNya: “… “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih rendah sebagai pengganti yang baik? … (QS Al Baqarah 002 :061)

Maka pertanyaannya adalah: Bisakah calorie restriction (CR) without malnutritionterdiri dari menu Nabi Musa as, di sediakan tanpa nasi?

Hampir seluruh penyakit berhubungan dengan deposit lemak tubuh yang diukur dengan BMI (body mass index) yaitu berat badan dibagi dengan tinggi pangkat dua (kg/m2) . Index ini menunjukkan persentase lemak tubuh terhadap berat dan tinggi. Index kurang berat adalah 15-18,4; normal, 18,5-22,9; kelebihan berat 23-27.5; gemuk, 27,6-40; kegemukan yang membawa penyakit, lebih dari 40.

Dengan patokan BMI (lihat tabel), Anda bisa mengetahui berat ideal dan menyesuaikan menu dengan perkiraan kebutuhannya dari Angka kecukupan Gizi (AKG) yang dapat anda download dihttp://gizi.depkes.go.id/download/AKG2004.pdf . Daftar ukuran rumahtangga makanan dapat Anda minta di setiap rumah sakit yang memiliki Bagian Gizi.

Satuan penukar
makanan jumlah URT berat kalori protein  (gr) lemak (gram) karbohidrat (gram)
ayam 1 potong 40 gram 50 7 2
telor 1 butir 75 7 5
susu rendah lemak 1 gelas 125 7 6
Buah
pepaya 1 ptg 50 12
kurma 3 bh 50 12
pisang 1 bh 50 12

Didorong keinginan untuk menjadi orang yang disukaiNya seperti hadis: “Orang paling disukai Allah swt diantara kalian adalah yang paling sedikit makannya dan paling ringan badannya. (Ibnu Abbas ra)  Al-Hasyimi,  hal 35; saya mencobanya sendiri.

3 bulan yang lalu Juli 2011, umur saya masuk 66 tahun, dengan tinggi 169 cm dan berat badan 85 kg; BMI saya 30 (lihat tabel). Untuk BMI 23, berat badan maksimal 65 kg.

Saya periksa AKG. Umur 60+, energi 2050 kal dan protein 60 gr. Dalam menu ini  kalori yang saya perlukan 70% dari 2050 = 1435 kal dan protein 0.83 kali 65 g = 54 gr.

Nah saya masukkan dulu kebutuhan protein yang selain diperlukan untuk kalori (energi) juga diperlukan untuk membangun sel.

Kebutuhan masing-masing adalah jumlah dikalikan dengan satuan penukar. Jadi dengan ayam 4 potong masng-masing 40 gram saya mendapat 28 gram protein dst. lihat tabel. Dengan 4 potong ayam, 2 butir telor dam 4 gelas susu saya memperoleh 63 gram protein untuk sehari. Cukuplah.

Sekarang kalori dan energi. Saya ambil dua buah yang ada didalam AlQuran yaitu pisang dan kurma, ditambah kesukaan saya papaya. Dimasukkan ternyata saya boleh memakan papaya 4, kurma 9 dan pisang 3 juga untuk sehari.   Cukup dan tanpa nasi.

ayam 4 200 28
telor 2 150 14
susu rendah lemak 3 375 21
Buah
pepaya 4 200
kurma 9 150
pisang 7 350
1425 63

Hasilnya sesudah 3 bulan, berat saya sekarang 73 kg.

Silakan mencoba.


[1] Valter D Longo, PhD1 and Luigi Fontana, MD, PhD2, Calorie restriction and cancer prevention: metabolic and molecular mechanisms Trends Pharmacol Sci. 2010 February; 31(2): 89–98. Published online 2010 January 25. doi: 10.1016/j.tips.2009.11.004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Switch to our mobile site