Terapi Bekam Modern, Terapi Terpadu, Terapi Islami

Kode Etik Pembekam Asosiasi Bekam Indonesia

March 18, 2012 - الأحد 25 ربيع الثاني 1433
 

 asosiasi bekam indonesia

 

Sebagai satu-satunya lembaga Asosiasi Bekam yang telah menjalin kemitraan dengan Departemen Kesehatan RI Asosiasi Bekam Indonesia juga telah memiliki kode etik bagi para pembekamnya,

Rumah Bekam / Terapi IHC telah menerapkan prinsip dasar kode etik ini. Carilah Pembekam yang telah berstandar Asosiasi Bekam Indonesia agar anda dapat memperoleh layanan Bekam yang terstandar dengan cukup baik.

 

Berikut isi kode etik Bekam Asosiasi Bekam Indonesia

KODE ETIK

Asosiasi Bekam Indonesia ( ABI )

 

 

MUKADIMAH

 

Sehat adalah suatu hal yang didambakan oleh setiap manusia. Meski sehat memang bukanlah segalanya, namun tanpa sehat  “ segalanya “ itu tiada arti.

 

Sehat yang sesuai dengan keingian Allah dan Rasul-Nya adalah suatu hal yang terus diupayakan oleh setiap manusia didalam kehidupannya, karena sehat secara hakiki adalah membangun suatu keseimbangan dalam tubuhnya dengan kekuatan fitrah (spiritual, emosional, mental dan fisikal) artinya dia tidak hanya jiwanya sehat akan tetapi rohaninya pun sehat.

 

Mempelajari dan mengetahui kesehatan bukan hanya tugas para dokter dan para medis, akan tetapi pengetahuan tentang kesehatan dan cara mengelola kesehatannya adalah sangat penting untuk diketahui oleh setiap lapisan masyarakat agar hidup yang dijalani lebih sehat dan bermakna.

 

Banyaknya orang yang dikarenakan suatu hal, mereka berobat dan melakukan pengobatan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yang saat ini banyak digandrungi pengobatan Alternatif yang menggunakan energi mahkluk lain, sehingga dia mampu memindahkan penyakit ke hewan atau makhluk-makhluk Allah yang lainnya.

 

Rasullullah bersabda “ Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Dia  menjadikan tiap-tiap penyakit itu ada obatnya. Maka berobatlah, akan tetapi janganlah kamu berobat dengan benda yang diharamkan” (H.R. Abu Daud).

 

Kesadaran akan hal ini dan untuk meluruskan aqidah dari penyakit syirik, maka penyebaran ilmu dan informasi yang jelas dalam menjaga kesehatan yang sesuai dengan syariah atau norma-norma agama dan ilmu kesehatan sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu agar setiap penterapi khususnya para pembekam mendapat pembekalan dan arahan – arahan dalam menunjang profesinya dengan harapan tidak terjadinya malpraktek atau try and error dalam melakukan pengobatannya serta tidak menjadikan profesinya semata-mata mencari kekayaan pribadi, maka dengan mengucap bismillahirrahmannirrahim kami para penterapi telah merumuskan kode etik  Asosiasi Bekam Indonesia yang diuraikan dalam pasal-pasal sebagai berikut :

 

 

 

 

KEWAJIBAN UMUM

 

Pasal 1

 

Setiap penterapi wajib mengawali pekerjaannya dengan memohon do’a kepada Allah dan meminta pada pasiennya untuk selalu bersabar dan berdo’a  memohon kesembuhan pada Allah SWT.

Pasal 2

 

Setiap penterapi harus berbadan sehat jasmani dan rohaninya untuk itu setiap penterapi berkewajiban untuk menjaga kesehatannya.

 

Pasal 3

 

Setiap penterapi harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah sebagai  pembekam Indonesia yang didasari ketaqwaannya pada ALLAH SWT.

 

Pasal 4

 

Setiap melakukan profesinya para penterapi harus mengikuti standar pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh ABI sebagai syarat keanggotaannya.

 

Pasal 5

 

Setiap penterapi dalam melakukan pekerjaannya tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan semata.

 

Pasal 6

 

Setiap penterapi dalam melakukan pekerjaannya harus mengutamakan atau mendahulukan kepentingan masyarakat dengan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan, serta menjadi mitra masyarakat untuk dapat mengarahkan dan mendidik masyarakat.

 

Pasal 7

 

Setiap penterapi tidak dibolehkan mengiklankan diri secara berlebihan dan menerima imbalan yang tak layak kecuali dengan keikhlasan dan kehendak pasien.

 

Pasal 8

 

Setiap penterapi hanya memberikan keterangan atau pendapat serta nasehat yang hanya diberikan untuk kepentingan penderita

 

 

 

Pasal 9

 

Setiap penterapi harus bekerjasama dibidang kesehatan maupun dibidang lainnya kepada masyarakat dengan saling pengertian.

 

Pasal 10

 

Dalam melakukan profesinya, setiap penterapi tidak membedakan suku, sosial, agama dan keyakinannya.

 

Pasal 11

 

Setiap penterapi harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya serta turut berpartisipasi dalam pengembangan Ilmu kesehatan dan Pengetahuan yang berkaitan dengan pengobatan.

 

Pasal 12

 

Setiap penterapi senantiasa mengikuti training atau pendidikan dan pelatihan guna menambah pengetahuan dan wawasannya dibidang pengobatan dalam meningkatkan mutu dan pelayanan kepada masyarakat.

 

Pasal 13

 

Setiap penterapi dalam menjalankan profesinya diharuskan telah memiliki ijin praktek atau STPT dari dinas kesehatan yang terkait.

 

Pasal 14

 

Dalam menjalankan profesinya, setiap penterapi harus menjaga akhlaknya dan aktif untuk memberikan nasehatnya guna memberikan kenyamanan dan tidak melanggar sopan santun

 

 

KEWAJIBAN KEPADA PENDERITA (PASIEN)

 

Pasal 15

 

Setiap penterapi wajib memberikan pertolongan kepada penderita sebagai suatu tugas yang mulia  dan berwenang  dalam mengambil keputusan berdasarkan profesinya.

 

Pasal 16

 

Setiap penterapi senantiasa menjaga dengan ikhsan mengenai kondisi penyakit kepada penderita sebagai makhluk ciptaan Allah.

 

Pasal 17

 

Setiap penterapi harus menjamin dan merahasiakan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan penderita kecuali bila diminta atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan pengobat.

 

Pasal 18

 

Setiap penterapi harus mengetahui riwayat penderita sebelum melakukan tindakannya dan berhak memberikan obat-obatan sesuai pengetahuan yang didapat dan dapat dipertanggung jawabkan.

 

Pasal 19

 

Setiap penterapi wajib melakukan sterilisasi terhadap alat-alat yang digunakan dan menjaga aspek-aspek hygienis, aman dan bermanfaat.

 

 

 

 

Pasal 20

 

Setiap peterapi harus melakukan diagnosa terlebih dahulu guna menghindari tindakan-tindakan kepada penyakit menular. Bila diketahui penyakit menular :

  • Penderita wajib mempuyai alat sendiri dalam hal ini alat bekam (Kop) dan membersihkannya sendiri

 

  • Alas yang digunakan sebaiknya disposible (sekali pakai) atau dapat dibersihkan dengan alkohol, bayclean atau yang sejenis.

 

  •  Memberikan saran agar penderita lebih berhati-hati terhadap penyakitnya agar tidak tertular kepada keluarga terdekatnya.

 

Pasal 21

 

Setiap penterapi dilarang keras untuk memberikan obat-obat keras, narkotika, psikotropika serta obat-obat sejenis yang berbaya kepada penderita.

 

 

KEWAJIBAN TERHADAP SESAMA PENTERAPIS LAINNYA

 

Pasal 22

 

Sesama penterapi harus saling menghormati dalam menjalankan profesinya. Bila tidak memiliki kemampuan dalam melakukan profesinya maka wajib merujuk penderita kepada seniornya atau dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

 

Pasal 23

 

Sesama anggota ABI harus saling hormat menghormati dan saling mendukung dan dilarang melakukan tindakan saling menjatuhkan.

 

Pasal 24

 

Setiap penterapi bersedia memberi bantuan keahliannya apabila diminta oleh rekan sesama penterapi.

 

Pasal 25

 

Setiap anggota harus menghadiri pertemuan yang diadakan oleh pengurus ABI. Setempat.

 

 

 

SANGSI  PENTERAPI  BEKAM  INDONESIA

TERHADAP PELANGGARAN KODE ETIK

 

Pasal 27

 

Seorang penterapi harus selalu mengikuti dan mentaati kode etik penterapi bekam Indonesia. Segala pelanggaran terhadap Kode Etik akan diselesaikan melalui Komisi Kode Etik yang anggotanya ditunjuk oleh Asosiasi.

 

 

Pasal 28

 

Bagi penterapi yang melanggar kode etik akan diberikan sangsi dan peringatan kesatu, peringatan kedua dan ketiga sampai dicabutnya keanggotaan Asosiasi Bekam Indonesia, dan Hak Ijin Praktek

 

Pasal 29

 

Setiap penterapi bekam Indonesia harus berusaha mentaati kode etik dengan sungguh – sungguh, menghayati, mengamalkannya dalam pekerjaannya sehari – hari. Menjaga nama baik dan martabatnya sebagai pengobat.

Kode Etik Penterapi BekamIndonesiaadalah hasil musyawarah para pendiri dan pengurus sebagai upaya anak bangsa untuk mengabdi kepada bangsa dan negaraIndonesia.

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Switch to our mobile site