Terapi Bekam Modern, Terapi Terpadu, Terapi Islami
 

عَن حُمَيْدٍ قَالَ : سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ ؟ ، فَقَالَ : احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ ، فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

.

Dari Humaid ia berkata : Anas Bin Malik pernah ditanyai mengenai mengambil upah bekam ? ia menjawab : “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam. Yang membekamnya adalah Abu Thaibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua sha’ gandum kepadanya.” (Hr. Muslim (10/242), Tirmidzi (1278) Syamail (361), Thahawi (syarh Ma’ani)(4/131), Ibnu Jauzi (Tahqiq)(1587), Bukhori (10/4) (Sanad)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : حَجَمَ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدٌ لِبَنِي بَيَاضَةَ ، فَأَعْطَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْرَهُ ، وَكَلَّمَ سَيِّدَهُ ، فَخَفَّفَ عَنْهُ مِنْ ضَرِيبَتِهِ ، وَلَوْ كَانَ سُحْتًا لَمْ يُعْطِهِ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .


dari Ibnu Abbas ia berkata : Nabi SAW dibekam oleh seorang budak dari Bani Bayadloh, mK beliau memberikan upahnya, dan beliau mengatakan kepada tuannya untuk meringankan dari bebannya, dan jika itu buruk tentu Nabi SAW tidak akan memberikannya. (Ahmad (1/365),Muslim (10/242), Abu Aunah (3/358/5298), At-Thabari (Al-Kabir)(12/96/12589), Al-Baihaqi (Al-Kubro)(9/338)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ ، وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ ، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أَعْطَاهُ .

Dari Ibnu Abbas : Sesungguhnya Rasulullah SAW berbekam, dan beliau memberikan upahnya, kalaulah hal itu haram, tentu ia tidak akan memberikannya. (HR. Ahmad (1/351), Bukhori (2/11. Sanadi), Abu Dawud (3423), Baihaqi (Al-Kubro)(9/338)

عَنِ ابْنِ مُحَيِّصَةَ عَنْ أَبِيهِ : أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِجَارَةِ الْحَجَّامِ ، فَنَهَاهُ عَنْهَا ، فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلُهُ وَيَسْتَأْذِنُهُ ، حَتَّى قَالَ : (( اعْلِفْهُ نَاضِحَكَ ، وَأَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ ))

Dari Ibnu Muhayyishoh dari Ayahnya : bahwasannya ia meminta ijin kepada Nabi SAW dalam mengambil upah bekam, maka beliau melarang darinya, maka ia terus-terusan menanyakannya dan beliau pun mengijinkannya, sehingga beliau berkata : (gunakanlah untuk memberi makan binatang peliharaanmu atau budakmu). (hadis riwayat Ahmad no 22578)

عن رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ ، وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خَبِيثٌ ، وَكَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ ))

Dari Rafi’ Ibn khadij dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hasil penjualan anjing itu kotor. Hasil melacur itu juga kotor. Pendapatan tukang bekam itu kotor.” (Hr. Muslim, no. 4095)

Dalam hal menerima upah, disini ada 3 permasalahan :

1. Halal upah bekam secara umum

2. Halal upah bekam untuk member makanan ternak dan budak

3. Menerima upah bekam itu kotor.
Mayoritas ulama, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan salah satu pendapat para ulama Hanabilah, berpendapat bolehnya menjadikan bekam sebagai profesi dan mendapatkan upah dari membekam.

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ :احْتَجَمَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ وَلَوْ عَلِمَ كَرَاهِيَةً لَمْ يُعْطِه

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekam. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa hal tersebut terlarang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi upah kepadanya.” (Hr. Bukhari, no. 2159)

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ وَلَوْ عَلِمَهُ خَبِيثًا لَمْ يُعْطِهِ

 

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibekam dan beliau memberi upah kepada tukang bekam. Seandainya beliau mengetahui bahwa upah bekam itu khabits/kotor, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberikannya.” (Hr. Abu Daud, no. 3423; Dinilai shahih oleh al-Albani)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَجْرِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

 

Dari Anas, beliau ditanya tentang hukum mendapatkan upah dari membekam. Beliau menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam. Yang membekamnya adalah Abu Thaibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua sha’ gandum kepadanya.” (Hr. Bukhari no. 5371, dan Muslim no. 62)

Seandainya mengupah tukang bekam itu haram, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengizinkan seorang pun untuk makan dari upah jasa membekam.

Selain itu, bekam adalah jasa yang bersifat mubah (diperbolehkan –ed), maka boleh meminta upah dengannya, sebagaimana jasa tukang bangunan dan penjahit. Juga, banyak orang yang membutuhkan bekam, dan tidak semua orang yang pandai membekam mau membekam dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, boleh meminta upah dengannya sebagaimana upah menyusui anak orang lain.

Akan tetapi, banyak di antara ulama yang memperbolehkan bekam sebagai sebuah profesi, yang berpendapat bahwa bekam adalah sebuah pekerjaan yang hina karena harus akrab dengan najis –yaitu darah– sebagaimana tukang sapu. Dengan pertimbangan ini, maka berprofesi sebagai tukang bekam dimakruhkan.

Al-Qurthubi mengatakan, “Yang benar adalah bahwa penghasilan tukang bekam itu termasuk pendapatan yang baik. Siapa saja yang mengambil harta yang baik maka kehormatannya tidaklah gugur dan martabatnya tidaklah turun.”

Setelah menyebutkan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa penghasilan tukang bekam itu adalah sesuatu yang baik, karena tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi upah sebagai kompensasi untuk sesuatu yang batil.”

Adapun sebagian Hanabilah (pengikut Mazhab Hambali) dan juga Qadhi Abu Ya’la menyatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan upah tukang bekam itu tidak diperbolehkan. Andai orang yang membekam mendapatkan sesuatu sesudah membekam tanpa ada perjanjian terlebih dahulu, maka boleh diambil, namun dimanfaatkan untuk makanan ternak atau biaya membekam, dan pemberian itu tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi tukang bekam tersebut.
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa hasil yang didapat oleh tukang bekam itu kotor. Bahkan, upah tukang bekam itu, disejajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan upah seorang pelacur.

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خَبِيثٌ وَكَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, upah pelacur, hasil penjualan anjing, serta pendapatan tukang bekam itu suht (haram).” (Hr. Ibnu Hibban, no. 4941; Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih sebagaimana kriteria Muslim.”)

Pendapat Penulis

Kalimat (الخبيث ) Khabits memiliki beberapa arti (kalimah musytarakah) diantaranya : buruk, jelek, jahat, keji, busuk, sampah, kotoran, sesuatu yang tidak berguna, yang menyakitkan, berbahaya, merugikan, yang najis, segala sesuatu yang haram, segala sesuatu yang rusak, bahkan untuk menyebutkan setan laki-laki dan setan perempuan juga menggunakan kalimat ini.[1]

Dari pengertian tersebut bisa difahami bahwa untuk mengartikan hadits di atas tidak bisa menyamaratakan seluruh kalimat khabits dengan pengertian haram.

1. Hasil penjualan anjing disebut khabits mengandung pengertian usaha penjualan anjing merupakan jenis usaha yang buruk/jelek. Karena anjing adalah hewan yang najis, tidak boleh memeliharanya kecuali untuk berburu, binatang yang bisa menghalangi Malakikat rahmat untuk turun ke suatu rumah yang disana terdapat anjing. Menjual belikan anjing bisa memberikan peluang orang lain terkena najis, atau dijauhi malaikat rahmat.

2. Upah pelacur disebut Khabits mengandung pengertian haram, karena mengupayakan hasil dari sesuatu yang haram itu haram. Zina merupakan perbuatan yang haram dan semua usaha yang dihasilkan dari zina itu hukumnya haram

3. Adapun khabits pada profesi pembekam memiliki pengertian yang lain dengan beberapa alasan :

a. Bekam merupakan upaya rawatan terhadap si sakit yang bersifat menolong

b. Bekam merupakan pengobatan yang paling direkomendasikan oleh Nabi

c. Tidak semua orang mampu melakukan bekam, perlu orang-orang yang serius dan profesional menekuni bidang ini.

Penulis memahami dari hadits di atas adalah bahwa Rasulullah menyebut upah profesi pembekam adalah khabits mengandung pengertian bahwa bekam merupakan layanan kesehatan ummat sehingga tidak pantas profesi ini sebagai bisnis murni / business oriented tanpa mengedepankan sisi sosial untuk membantu dan menolong orang lain. Karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar semua manusia sehingga pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat tidak boleh dimonopoli oleh beberapa orang pebisnis yang hendak mengambil keuntungan dari pasien, tidak benar jika mengatakan “Jika banyak orang sakit, dokter senang dan banyak mendapatkan uang” itu tidak benar, bagaimanapun profesionalitas itu memerlukan fasilitas, dan hal ini bisa terjadi jika ada regulasi yang tepat dan manajemen sehingga keberlangsungan tempat-tempat rawatan bisa berjalan dengan baik.

Juga bekam sangat erat kaitannya dengan darah, dalam hal ini darah merupakan hal yang khabits artinya memiliki potensi membahayakan jika tidak dikelola dengan baik. Sehingg mutlak pengelolaannya diperlukan orang-orang yang mengerti kesehatan bagaimana cara proses sterilisasi alat, pengeloalaan limbah.

 


[1] Kamus al-Munawwir

diambil dari sumber www.anashikmat.blogspot.com

11 Comments

  • doel says:

    kalau pasien membutuhkan darah? contoh: suatu penyakit pd pasien (cuci darah) atau karena kecelakaan hingga pasien sangat membutuhkan darah.Bagaimana soal perdagangan jual beli darah pd bayak Rumah sakit…yg ternyata masih banyak dimonopoli..??? yang biayanya cukup lumayan mahal..? & bagaimana pada golongan orang yg tak mampu…? sedangkan banyak pendonor darah iklas tuk sumbangkan darahnya karna Allah…?

    • admin says:

      Baik terimakasih atas responnya. terkait dengan pertanyaan tersebut : 1. Pasien cuci darah tidak membutuhkan darah tambahan karena yang terkait dengan biaya adalah penggantian filter dan servisnya jika pasien tidak mampu maka ada Yayasan yang dapat membantu terkait keperluan cuci darah silakan di cek di rumah sakit 2. Kecelakaan yang menyebabkan perdarahan yang memerlukan tambahan darah, sebetulnya darah itu sendiri gratis hanya yang di charge oleh rumah sakit dan PMI tersebut adalah biaya a. Kantong darah, b. zat “pengawet” agar darah tidak beku ketika di masukkan dalam lemari es c. biaya listrik yang dikeluarkan untuk menyalakan lemari es dalam penyimpanan.
      3. Donor darah berbeda dengan bekam, donor darah keluarnya adalah darah bersih dan masih sehat. Bekam yang keluar adalah darah rusak yang berbahaya untuk pembekamnya dan pembekam mempertaruhkan kesehatannya sendiri menolong orang lain. kalau pembekam menggratiskan insya Allah itu adalah sedekah dan kami pun melihat pada kemampuan pasien jika pasien tidak mampu silakan mengajukan kepada kami dan kami pun insya Allah akan menggratiskan.

  • bejo says:

    maaf pak, dari artikel diatas dan hadist diatas kok saya memahaminya lain ya..
    saya memahaminya, si tukang bekam memang boleh menerima upah dari yang dibekam, asalkan si tukang bekam tersebut tidak menetapkan tarif, yang ia mengambil keuntungan dari tarif tersebut. adapun tarif yang wajar seperti untuk mengganti peralatan berbekam itu masih dibolehkan.
    maaf pak, masih banyak belajar nih..mohon maklum..hehe
    terima kasih.

  • bejo says:

    maaf lagi pak, saya tadi menemukan pernyataan dari salah satu ulama pak,seperti ini:

    Menjadikan Bekam sebagai Mata Pencaharian
    Oleh: Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy rahimahullahu
    Pertanyaan:
    هل يجوز الإكتساب من الحجامة ؟
    Bolehkah bekam dijadikan mata pencaharian?
    الجواب :
    عند الضرورة يجوز إذا قصد نفع الناس وليس له معيشة يتكسب منها غير هذه المهنة فهو يجوز إن شاء الله. وبالله التوفيق
    Jawab:
    Dalam keadaan darurat diperbolehkan, apabila dengan niat memberikan manfaat kepada orang lain sementara dia tidak memiliki penghasilan kecuali dari pekerjaan ini, maka boleh insya Allah. Wabillahi At-Taufiq.
    (Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy)
    bagaimana menurut bapak?

  • sengkuni says:

    ibnu majah mengatakan memasang tarif untuk bekam itu dilarang, tetapi mendapatkan upah dari pasien bekam itu diperbolehkan.

    dalam hal tsb pemberian upah tukang bekam harus sesuai dengan keikhlasan pasien.

    • admin says:

      TOLONG DIBACA SECARA TUNTAS !!! ini sudah melalui kajian panjang.
      Bekam pada zaman Rasulullah SAW dilakukan para hamba sahaya, yang karena pengaruh budaya Jahiliyah, masih ada batas yang mencolok antara hamba sahaya atau budak dengan orang merdeka. Namun kemudian batas ini dihapus oleh syariat Islam bahwa semua manusia, apa pun status kedudukannya adalah sama di hadapan Allah, yang membedakan di antara hanya taqwa, sehingga hokum halal dan haram berlaku bagi semua orang. Nama pembekam beliau yang terkenal adalah Abu Thaibah dan Abu Hindun. Artinya, latar belakang social seperti ini harus dipahami terlebih dahulu sebelum membahas masalah upah bekam.

      Sehubungan dengan upah bekam yang diterima pembekam, ada beberapa hadits yang intinya dua macam:
      - Menggolongkan upah bekam sebagai suatu penghasilan yang buruk atau istilah lain yang sejenis, dengan lafazh: syarr, khabiits,suht.
      - Rasulullah SAW memberikan upah bekam kepada orang yang membekam beliau sebanyak tiga sha’ bahan makanan.

      Dari dua kelompok hadits ini dapat dipahami seolah-olah ada ta’arudh, pertentangan antara keduanya. Kalaulah Rasulullah SAW bersabda bahwa upah bekam adalah sesuatu yang buruk, maka mana mungkin beliau melejitimasi yang buruk dengan sebuah tindakan yang beliau lakukan sendiri?

      Cara yang paling baik untuk memahami dua jenis hadits ini ialah melalui thariqul-jam’I, cara pemaduan antara dua dalil yang seolah-olah saling bertentangan. Inilah di antara hadits-hadits tersebut;

      Hadits tentang Buruknya upah Bekam:

      عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « شَرُّ الْكَسْبِ مَهْرُ الْبَغِىِّ وَثَمَنُ الْكَلْبِ وَكَسْبُ الْحَجَّامِ ».
      Dari Raafi’ bin Khudaij radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seburuk-buruk usaha adalah mahar (upah) pezina, hasil jual beli anjing, dan upah pembekam”.

      رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ وَمَهْرُ الْبَغِىِّ خَبِيثٌ وَكَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ ».
      “Hasil jual beli anjing adalah keji, hasil usaha pezina adalah keji, dan upah pembekam juga keji” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1568].
      قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من السحت كسب الحجام
      Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Termasuk usaha yang haram adalah upah para pembekam” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Al-Musykil no. 4661; shahih].

      Hadits-hadits tentang Rasulullah SAW yang memberikan Upah Bekam:

      عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَكَلَّمَ أَهْلَهُ فَوَضَعُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ وَقَالَ « إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ أَوْ هُوَ مِنْ أَمْثَلِ دَوَائِكُمْ ». (صحيح مسلم)
      “Dari Humaid, dia berkata, Anas bin Malik pernah ditanya tentang upah pembekam, maka dia menjawab, Rasulullah SAW pernah dibekam Abu Thaibah, lalu memerintahkan agar dia diberi upah dua sha’ bahan makanan, dan beliau berbicara dengan tuannya sehingga mereka meringankan setorannya, seraya bersabda, “Sesungguhnya pengobatan paling ideal yang kalian lakukan ialah hijamah atau hijamah itu merupakan obat kalian paling ideal.”

      عَنْ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَنَسًا ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَحْتَجِمُ وَلَمْ يَكُنْ يَظْلِمُ أَحَدًا أَجْرَهُ (صحيح البخاري)

      Dari Amr bin Amir, dia berkata, Aku pernah mendenga Anas berkata, bahwa Nabi SAW pernah meminta hijamah dan beliau tidak akan menzhalimi siapa pun dalam hal upahnya.” (Shahih Al-Bukhary)

      عَنْ عَلِيٍّ ، قَالَ : احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَمَرَنِي أَنْ أُعْطِيَ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ.
      Dari Ali, bahwa Rasulullah SAW pernah meminta hijamah dan menyuruhku agar aku memberikan upahnya kepada penghijamah. (Dishahihkan Al-Abany dalam Shahih Ibnu Majah)
      عن ابن عباس : أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وأعطى الحجام أجره

      Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW meminta hijamah dan memberikan upah kepada penghijamah.(Dishahihkan Syaikh Al-Albany di Shahih Sunan Abu Daud)

      Pendapat Para Ulama:
      1. Mengharamkannya. Namun pendapat yang mengharamkannya ini tertolak karena telah shahih riwayat bahwasannya beliau pernah memberikan upah kepada pembekam.
      2. Apabila pembekam tersebut merdeka (bukan budak), maka hukumnya haram. Namun bila pembekam tersebut seorang budak, maka boleh. Pendapat ini juga lemah, karena syariat Islam tidak membedakan pemberlakuan hokum halal dan haram terhadap status apa pun.
      3. Larangan mengambil upah dari usaha bekam telah mansukh. Ini adalah pendapat Ath-Thahawiy. Pendapat yang mengatakan pelarangan mengambil upah bekam telah mansukh tidak bisa diterima, karena klaim adanya naasikh-mansukh hanya dapat diterima jika diketahui secara pasti mana dalil yang datang paling awal dan yang datang paling belakangan. Selain itu, klaim ini juga hanya bisa diterima jika jalan penggabungan (thariqatul-jam’i wat-taufiq) tidak memungkinkan. Sedangkan dalam kasus ini, jalan penggabungan masih terbuka.
      4. Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khaan berkata : “Jumhur ulama berpendapat tentang halalnya upah pembekam berdasarkan hadits Anas yang terdapat dalam Shahihain dan yang lainnya : ‘Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta bekam, lalu beliau dibekam oleh Abu Thayyibah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberinya upah dua shaa’ bahan makanan’……. Dan yang lebih utama adalah penggabungan di antara hadits-hadits (yang melarang dan yang memperbolehkan), bahwa upah bagi pembekam adalah makruh, tidak sampai pada derajat haram” [Raudlatun-Nadiyyah, 2/132].
      5. Apabila pembekam memasang tarif tertentu, maka usahanya tersebut tidak dibenarkan. Namun jika tidak, maka dibenarkan. Ibnu Hibban memilih pendapat ini. Ini pun pendapat yang lemah, karena tak ada satu pun dalil syar’y atau kaidah hokum yang menguatkannya.
      6. Jumhur ulama berpendapat usaha pembekam adalah halal dengan membawa nash-nash larangan kepada makruh tanzih.

      Kesimpulan tentang upah bekam:

      1. Hadits-hadits tentang keburukan upah bekam dengan lafazh syarr, suht, khobits, hingga lafazh larangan, bukan an-nahyu lit-tahrim, pelarangan dengan status pengharaman
      2. Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah meminta hijamah dan beliau memberikan upah hijamah, dan beliau tidak pernah menzhalimi siapa pun. Dalam Kitab Fathul Bary, 4/459 disebutkan perkataan Ibnu Abbas bahwa sekiranya beliau tahu bahwa upah bekam adalah haram, maka tak mungkin beliau memberikan upah itu.
      3. Dalam Kitab Fathul Bary, 4/459 juga disebutkan pendapat Jumhur Ulama bahwa upah hijamah adalah halal, yang didasarkan kepada hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW memberikan upah kepada orang yang membekam beliau.
      4. Al-Imam Asy-Syafi’y berkata (tentang hadits Muhayyishoh), “Sekiranya upah bekam itu haram, tentu Rasulullah tidak menolerir Muhayyishoh untuk memiliki sesuatu yang haram, tidak pula memberikan hal yang haram sebagai makanan ternaknya, tidak pula memberikan makanan yang haram bagi budaknya, sebab walaupun budah, dia tetap diberlakukan hokum halal dan haram.”
      5. Sistem pembayaran upah bekam tidak terikat dengan cara tertentu karena tidak ada satu dalil pun atau kaidah hokum yang menetapkannya, apakah suka rela maupun ditetapkan. Munculnya anggapan tertentu tentang upah bekam, berasal dari pendapat pribadi yang bersifat subyektif, yang boleh jadi didasarkan pada hadits-hadits kelompok pertama.
      6. Kalaulah upah bekam ditetapkan karena tuntutan system manajemen keuangan, maka hal ini dikembalikan kepada kelayakan infrastruktur, sarana prasarana, system layanan, alat-alat yang dipergunakan dengan prinsip kepatutan. Wallahu a’lam bish-shawab.

  • admin says:

    thank you for commenting. please kindly use english language, so that we can understand your comment

  • admin says:

    thank your for commenting, please kindly use english language so that our readers can understand your comments.

Leave a Reply to sengkuni Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Switch to our mobile site